PENDIDIKAN YANG MENYENANGKAN DAN MEMBAHAGIAKAN
PENDIDIKAN YANG MENYENANGKAN DAN MEMBAHAGIAKAN
Oleh
Gede Putra Adnyana
1. Perspektif Belajar dalam Pendidikan
Pada prinspnya belajar adalah proses olah hati, olah pikir, olah rasa, dan olah raga. Proses pengolahan tersebut menghasilkan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi ini merupakan modal dasar untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya sehingga bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan demikian belajar adalah fenomena kompleks yang berlangsung secara berkelanjutan sepanjang hayat dikandung badan.
Belajar adalah elemen penting dari pendidikan. Pendidikan adalah upaya sadar dan terencana yang menjadi penuntun proses pembelajaran. Dengan pendidikan, proses belajar menjadi terarah sehingga menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, terampil, dan berpengetahuan agar bermanfaat untuk dirinya, bangsa dan negaranya. Oleh karena itu pendidikan merupakan penuntun proses pembelajaran.
Pendidikan berkembang sesuai zamannya. Sehingga setiap zaman akan menghasilkan teori dan tokoh Pendidikan. Pada awal tahun 2000 pembelajaran dengan paradigma konstruktivistik berkembang sangat pesat di Indonesia. Hal ini memunculkan nama-nama tokoh pendidikan dunia pencetusnya, seperti Ausubel, Bruner, dan Piaget.
Sejalan dengan makin matangnya pengetahuan dan perkembangan pendidikan di Indonesia, maka formatnya pun mencari bentuk. Pencarian itu tidaklah mudah dan membutuhkan kajian dari berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks inilah tokoh pendidikan legendaris Indonesia, Ki Hajar Dewantara, menyeruak di tengah kegalauan dunia pendidikan. Filosofi yang dikumandangkan Bapak Pendidikan Indonesia ini masih sangat relevan dengan situasi dan kondisi Indonesia saat ini. Melalui motto Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani, pendidikan menjadi sangat holistik dalam pencapaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Moto ini manakala dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dibalut teknologi maka akan menjadi model pembelajaran yang aktual, faktual, dan kontekstual.
2. Guru Penggerak Merdeka Belajar
Pendidikan wajib diperjuangkan. Seperti halnya Ki Hajar Dewantara yang memperjuangkan pendidikan Bangsa Indonesia. Perjuangan yang penuh dengan tekanan, ancaman, hambatan, tantangan, dan gangguan. Perjuangan untu pendidikan yang memerdekakan.
Pendidikan yang memerdekakan mengandung dua konsep besar, yakni pendidikan yang menyenangkan dan membahagiakan. Menghadirkan kedua keadaan itu, tidaklah mudah. Dibutuhkan waktu, pikiran, tenaga, dan biaya.
Pendidikan yang menyenangkan dan membahagiakan meniscayakan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Rasa senang dan bahagia muncul manakala tidak ada tekanan pada siswa, sesuai dengan potensinya, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menghadirkan keadaan itu, juga bukanlah mimpi. Mellaui kerja gotong royong terjadi dengan optimal diwujudnyatakan manakala. Oleh karena itu, diperlukan “pasukan berani mati” untuk mewujudkan merdeka belajar.
Pekerjaan yang sulit dapat dikerjakan dengan lebih mudah jika dilakukan secara bergotong royong. Dengan demikian, untuk menggerakkan merdeka belajar, tidak ada pilihan lain, kecuali harus digerakkan secara bergotong royong dengan melibatkan semua elemen pendidikan.
Ketika berada di tengah-tengah siswa yang sedang mengeksplorasi pengetahuan, wajib memberikan semangat dan energi. Energi positif melalui elaborasi, kolaborasi, diskusi mendalam, penuh cinta kasih, dan keikhlasan harus ditransfer kepada peserta didik. Kita harus meyakinkan bahwa mereka pasti dapat melakukannya dengan baik.
Selanjutnya, ketika berada di luar kelas atau di lingkungan masyarakat, guru wajib memberikan dorongan kepada peserta didik. Hal ini penting, agar peserta didik tidak ragu menerapkan kompetensinya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, mereka menjadi insan-insan bermartabat dan bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
3. Poin Penting Merdeka Belajar
a) Pendidikan Dinamis sesuai Zamannya
Perubahan zaman dan perkembangan teknologi dan informasi menyebabkan perubahan pendidikan. Ini menunjukkan bahwa Pendidikan bersifat dinamis sehingga harus aktual, faktual, dan kontekstual. Oleh karena itu, setiap elemen pendidikan semestinya tidak alergi dengan perubahan dalam dunia pendidikan. Hendaknya ada kesadaran bahwa perubahan itu dilakukan untuk peningkatan kualitas pendidikan.
Perkembangan Pendidikan di Indoensia pun terdampak akibat perubahan pendidikan di dunia. Hal ini karena era globalisasi meniscayakan keterbukaan informasi dan komunikasi. Kondisi ini langsung atau tidak langsung berpengaruh terhadap Pendidikan Indonesia. Namun, harus ada satu filosofi yang tepat dipegang teguh secara konsisten dan konsekuen. Tiada lain adalah filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara.
b) Pendidikan yang Menyenangkan dan Membahagiakan
Pendidikan dan pembelajaran di sekolah atau di institusi pendidikan seyogyanya menghadirkan rasa senang dan bahagia bagi peserta didik. Jika hal ini dapat diwujudnyatakan, maka menjadi bukti bahwa ada kesamaan persepsi diantara semua elemen pendidikan.
Kondisi ini juga menunjukkan bahwa merdeka belajar telah terjadi di institusi tersebut. Dengan rasa senang, maka peserta didik mempelajari sesuatu yang cocok dengan dirinya. peserta didik tidak merasa tertekan dan tidak ada unsur paksaan. Artinya, kebutuhan peserta didik telah terakomodasi dan merasakan manfaatnya untuk kehidupan.
Ketika rasa senang sudah muncul maka untuk mewujudkan rasa bahagia menjadi lebih mudah. Dengan kebahagian, peserta didik akan belajar tanpa beban dan potensial mencapai kesuksesan. Dengan kebahagiaan pula ekosistem pendidikan berkembang untuk mendukung kualitas proses dan hasil belajar.
c) Gerakan Gotong Royong untuk Trasformasi Pendidikan
Sesungguhnya filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara berasaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan. Ketika menerapkan moto Ing Ngarso Sung Tulodo, maka guru berposisi sebagai teladan. Peserta didik menjadikan teladan itu sebagai perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks keteladanan, maka semua guru secara bersama-sama bergotong royong menjadi teladan.
Pada saat menerapakan moto Ing Madyo Mangun Karso, guru bersama peserta didik terlibat aktif dalam kegiatan. Di tengah-tengah peserta didik, guru memberikan semangat, energi, dan arahan agar siswa bekerja dengan percaya diri. Meyakinkan peserta didik, bahwa pasti dapat mengerjakan dengan tuntas dan sempurna.
Selanjutnya, saat mengaplikasikan moto Tut Wuri Handayani, guru memberikan motivasi dan dorongan agar peserta didik secara berkelanjutan melakukan aktivitas belajar. Guru-guru, pegawai, dan semua elemen sekolah secara bergotong royong memberikan dorongan agar peserta didik dapat menyelesaikan proses belajarnya sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
d) Pembelajaran Berpusat pada Peserta Didik
Pembelajaran yang memerdekakan adalah pembelajaran yang berpusat pada peseta didik. Semua aktivitas, arahan, bimbingan harus untuk kepentingan peserta didik. Oleh karena itu guru-guru wajib menjadikan peserta didik sebagai subjek dalam melakukan perencanaan, tindakan, evaluasi, dan refleksi.
Guru-guru memastikan bahwa kegiatan yang dirancang tidak melebihi kemampuan peserta didik. Ini mudah diucapkan, tetapi sulit dilakukan. Oleh karena itu dalam menyusun berbagai dokumen pembelajaran guru-guru harus selalu menjadikan peserta didik subagai subjek. Penting juga bagi guru mengetahui potensi peserta didik. Dalam konteks inilah guru perlu melakukan observasi, identifikasi dan klasifikasi, penyusunan rencana tindak lanjut, melaksanakan dengan cara yang benar, dan terus melakukan refleksi. Dalam hal ini refleksi dapat ditiinjau dari peserta didik maupun guru-guru dan elemen pendidikan lainnya sehingga lebih komprehensif.
e) Pembelajaran untuk Budi Pekerti
Pendidikan dan pembelajaran tidak dapat menafikan akhlak, kompetensi, kepekaan sosial, budaya, intelektual, dan keterampilan peserta didik. Kumpulan dari semua unsur itu pada peserta didik akan membentuk budi pekerti. Oleh karena itu budi pekerti mencakup pikiran, perasaan, dan tenaga. Dalam konteks inilah sangat urgen dan strategis membentuk budi pekerti luhur di kalangan peserta didik.
Guru-guru diberi tanggung jawab membentuk budi pekerti luhur peserta didik. Tanggung jawab ini sangat berat. Karena, setiap peserta didik mempunyai karakter tersendiri yang akan membentuk budi pekertinya. Namun, guru harus mulai menunjukkan kepiawaiannya untuk mereduksi potensi tidak baik dan menguatkan potensi baik pada peserta didik. Jika ini dapat dilakukan maka diyakini akan melahirkan peserta didik dengan budi pekerti luhur. Sekali lagi, ini sangat sulit dilakukan. Tetapi, bukan berarti tidak mungkin diwujudkan.
0 Komentar